Tag Archives: javan gibbon

21Dec/21

Honey Bees in the forest habitat of the Javan gibbon

Focussing especially on Pekalongan regency, Central Java Province, Indonesia, our work to conserve the Javan gibbon (Hylobates moloch) mainly aims to support the sustainable production and marketing of coffee grown in the shade of forest trees (i.e. coffee agroforestry). However, since 2017, we have also launched a project that makes use of bees in the area to build and strengthen local livelihoods.

The SwaraOwa team’s very own bee specialist, Sidiq Harjanto, started this project by first compiling a list of the species  of bees found in the Sokokembang forest. He then did fieldwork at selected sites with different habitat types and altitudes to find out which species were present where. At the same time, he also researched which activities locals were already engaging in that related to bees. One of these, the harvesting of honey in the dry season, proved an interesting tradition to study and develop for sustainable use. In February 2017, we published a brief report detailing which species of bees were found in the area (read here). We concurrently started conceptualising projects to cultivate these bees. These projects centred around several villages near the forest habitat of the Javan gibbon, in Sokokembang, Tinalum, involving several species of stingless bees and the stinging bee Apis cerana in Setipis hamlet. All of these sites are in the Petungkriyono sub-district.

Because Javan gibbons inhabit the forests of the Lebakbarang sub-district, Mendolo village has become one of the focal points of our beekeeping project focused on stingless bees. One of the more important stingless bee species there is Heterotrigona itama, popular for its high yield of honey. To date, several community groups have used these bees for forest-friendly investments that have given them bountiful returns.

Beekeeping in and around the forest takes up a minimal amount of land, because it can be done in conjunction with forestry or agricultural activities in general. Unlike other livestock, bees can find their own food. The forest keeps them well supplied with nectar and pollen, which they store in their hives as honey and beeswax. By tirelessly visiting flowers, bees help to pollinate plants. It has been shown that in this, bees and other pollinating insects crucially support the production of fruits and other food crops, as well as help regenerate forests.

 

11Dec/20

Nyanyian Owa Jawa : diva di tengah rimba

Oleh : Nur Aoliya , email :  [email protected]

Owa jawa (Hylobates moloch) di hutan Sokokembang, Petungkriyono

 “Emang ada Owa Jawa di Pekalongan?” itu pertanyaan pertama saya saat mendengar program konservasi owa jawa oleh Coffee and Primate Conservation Project atau sekarang lebih dikenal SwaraOwa  di desa sukokembang, kecamatan petungkriyono kabupaten pekalongan tahun 2014. Sampai sekarang tahun 2020 masih ada orang yang mempertanyakan akan hal itu, bahkan orang pekalongan sendiri ada yang tidak tahu kalo ada Owa Jawa di Pekalongan.

Salah satu yang unik dari owa adalah suara atau nyanyiannya, bak sebuah lagu. Baik owa betina maupun jantan dapat bersuara, namun waktu dan tipe suaranya berbeda. Owa jantan cenderung bersuara sebelum fajar sedangkan Owa betina cenderung bersuara setelah terang dan kadang siang hari. Jenis-jenis owa menghasilkan  nyanyian lagu yang keras dan panjang yang sebagian besar dipamerkan oleh pasangan yang telah kawin. Biasanya, pasangan menggabungkan nyanyian ini  (repertoire) dalam interaksi vokal, tepat waktu, dan kompleks untuk menghasilkan  pola duet yang baik.1

Perbedaan waktu bersuara Owa Jawa ini, kenapa seperti itu juga belum banyak yang meneliti. Di dunia hanya Owa dari Jawa dan Owa dari Mentawai dimana antara jantan dan betina tidak menyanyi bersama.

Sonogram , visualisasi suara owa jawa

Lebih menarik lagi suara yang dinyanyikan owa betina pada pagi hari yang disebut great call, karena suaranya sangat khas. Suaranya dimulai dengan suara “waa” dengan interval lambat yang semakin cepat sampai ke lengkingan panjang dan diakkhiri dengan interval yang semakin melambat.  Mungkin karena itulah satwa ini lebih dikenal sebagai owa-owa/ uwek-uwek karena suarnya terdengar melafalkan kata tersebut. Suara betina selain khas juga memiliki peranan sangat penting, yaitu sebagai tanda daerah teritorinya. Setiap kelompok owa memiliki area yang digunakan sebagai tempat mencari makan, istirahat, reproduksi, dan segala aktifitasnya. Area tersebut akan dijaga dan tidak akan mengijinkan owa dari kelompok lain untuk memasuki area mereka. Tugas owa betina ini menyiarkan batas-batas areanya melalui suaranya tiap pagi.

Lantas bagaimana owa tau bahwa ini suara betina yang mana? Dan dari kelompok mana? ini menjadi daya tarik saya untuk mepelajari variasi great call owa di sokokembang sebagai skripsi yang didukung oleh Swaraowa. Ternyata setelah saya mempelajari lebih lanjut baik secara literature maupun penelitian langsung setiap suara betina ini memiliki perbedaan. Perbedaanya dapat kita lihat dengan cara memvisualisasikan suara nyanyiannya, dan perbedaan yang utama  dari nadanya, durasinya dan frekuensinya (lihat gambar dan video). Seperti suara manusia yang berbeda-beda sehingga kita bisa membedakan manusia hanya dari suaranya tanpa melihat wujudnya kan? owa jawa juga begitu.

Saat ada satu betina yang bersuara maka akan memancing betina lain akan bersuara.  Antar betina yang beda kelompok tidak akan bersuara bersamaan alias bergantian, agar pesan  masing-masing kelompok tersampaikan. Biasanya betina remaja akan belajar bersuara bersama induk betinanya, tapi kadang suaranya masih nanggung atau tidak seharmoni induknya. Owa tidak akan bersuara saat hujan atau malam harinya hujan. Soalnya suaranya akan lebih sulit terdengar oleh kelompok lain dan butuh energi lebih saat hujan.  Jadi dari pada energi terbuang sia-sia untuk bersuara lebih baik digunakan untuk menghangatkan badan. Sama seperti kita kalo hujan juga penginya rebahan ajah, tidak  buang-buang energi.

Demikianlah sebagian fakta unik tentang owa jawa. Mudah-mudahan owa jawa dimanapun khususnya di Petungkriyono akan tetap lestari,  owa membantu regenerasi alami pohon-pohon alam, kita butuh hutan  dan owa jawa sebegai satu kesatuan, menikmati udara segar, air sungai yang deras dan jernih, sumber ekonomi dan  ilmu pengetahuan  yang harus kita rawat dan kelola dengan bijaksana. Menikmati nyanyiannya di hutan setidaknya akan memberikan rasa kedamaian diantara riuhnya suara-suara gemuruh pembangungan anthroposentris , nyanyian Owa seperti diva di tengah belatara, yang menunjukkan bahwa hutan tempat hidupnya masih terjaga. Melestarikan owa jawa dan hutan sama sajah menjamin kehidupan untuk manusia generasi selanjutnya.

 

Daftar Pustaka

  1. Geissmann, T. dan V. Nijman. 2001. Calling Behaviour of Wild Javan Gibbons Hylobates moloch In Java, Indonesia dalam Forest (and) Primates. Conservation and ecology of the endemic primates of Java and Borneo. Tropenbos Kalimantan Series