Tag Archives: bilou

22Sep/26

Merancang Strategi Konservasi Bilou Mentawai

Oleh : Fatimah Zahratul Jannah

foto bersama peserta workshop PVA Bilou Mentawai

Pada 10 September 2026, Padang menjadi tempat bertemunya para peneliti, akademisi, pengelola kawasan, dan pegiat konservasi untuk membicarakan masa depan salah satu primata endemik Kepulauan Mentawai, owa bilou (Hylobates klossii). Melalui Workshop Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) Owa Bilou Mentawai, berbagai data dan pengetahuan tentang bilou mulai dipertemukan untuk melihat bagaimana populasi dan habitatnya dapat bertahan dalam jangka panjang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Owa Bilou Mentawai. Workshop didukung oleh Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik, Kementerian Kehutanan, dan dilaksanakan oleh SwaraOwa berkolaborasi dengan Balai Taman Nasional Siberut.

Bilou ( Hyloboates klossii)

Pembukaan workshop dihadiri oleh perwakilan Balai Taman Nasional Siberut dan BKSDA Sumatera Barat, Ketua SRAK Owa Bilou Erlinda C. Kartika, Ph.D., serta Direktur SwaraOwa Arif Setiawan. Forum juga mempertemukan akademisi, peneliti, lembaga swadaya masyarakat, pengelola kawasan, dan berbagai pihak yang selama ini memiliki data maupun pengalaman terkait bilou.

Materi pertama disampaikan oleh Dr. Suci Atmoko dari Universitas Nasional, mengenai pengantar PVA untuk Bilou Mentawai yang menekankan tujuan dilakukannya PVA ini adalah untuk : adalah sebagai fondasi ilmiah untuk memetakan peluang bertahan hidup populasi Bilou di habitat aslinya serta memprediksi risiko kepunahan.

Selanjutnya, Nur Aoliya dari SwaraOwa memaparkan Populasi Bilou (Hylobates klossii) di Kepulauan Mentawai berdasarkan survey yang telah dilakukan di tahun 2025 dan tahun 2026. Dari survey yang dilakukan oleh tim swaraowa, dengan menggunakan metode fixed point- vocal count, metode titik ini digunakan untuk mendengarkan suara kelompok bilou bersuara, di seluruh lokasi-lokasi yang sebelumnya telah di pelajari berdasarkan informasi tutupan hutan dan informasi dari warga lokal mengenai keberadaan bilou.

Sebelum pengambilan data, tim survey telah mendapatkan pelatihan terlebih dahulu, 2 kali pelatihan dalam waktu total 2 minggu dilaksanakan di awal tahun 2025 dan di bulan ..wilayah di Taman Nasional Siberut, siberut utara. Tujuannya adalah untuk pengenalan metode dan prinsip dasar metode survey Bilou berdasarkan suara. Pengambilan data, dilakukan dengan rincian 23 titik LPS di Siberut ( 9 titik di dalam kawasan TNS dan 14 titik diluar kawasan ), di sipora 2 titik lps, di Pagai Utara dan Pagai Selatan 3 titik LPS. setiap titik di lakukan pengamatan selama 4 hari berturut-turut.

Menurut hasil tersebut , saat ini pulasi Bilou adalah  11,903.13 individu di seluruh Kepulauan Mentawai. Pulau Siberut ada kuranglebih 7,808 individu ( di dalam kawasan Taman Nasional), di Siberut luar Taman Nasional ada setidaknya 2,922 individu, di Pulau sipora, terdapat 229 individu, dan Pagai utara, Pagai Selatan ada setidaknya 943 individu.di seluruh Kepulauan Mentawai. Aoliya menjelaskan bahwa telah terjadi penurunan populasi di Mentawai keseluruhan selama 21 tahun (2005-2026) adalah 42% atau 2.3% per tahun, dg jumlah penurunan tidak seragam di tiap pulau. Estimasi ini dari nilai tengah (midpoint) populasi dari area suitable. Penurunan populasi didapat apabila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, dengan tanpa mempertimbangkan lokasi LPS dan jumlah sampel lokasi, meskipun survey dilakukan oleh tim swaraOwa lebih banyak dibandingkan survey sebelumnya, di tahun 2025.

Selanjutnya, Kurnia Latifiana dari SwaraOwa yang menyampaikan Pemetaan Kesesuaian Habitat Bilou (Hylobates klossii) di Kepulauan Mentawai, Indonesia. Kurnia menekankan bahwa pemetaan kesesuaian habitat bilou adalah sangat penting karena sebagai peta dasar untuk konservasi species dalam skala landskap, memahami lokasi prioritas dan rencana konservasi. Kurnia menggunakan pendekatan pemodelan Maximum entropi dan Random forest berdasar lebih dari 300 titik perjumpaan bilou. Luasan habitat yang sesuai berada di siberut, hasil analisis mengenai luasan tutupan hutan dan habitat yang sesuai untuk Bilou, disajijan di bawah ini, dan analisis ini juga menjadi dasar untuk estimasi populasi yang dilakukan oleh tim swaraOwa.

 Luasan kesesuaian habitat bilou di Kep.Mentawai

Workshop ini juga menghadirkan, studi kasus dari Orangutan, dan sebagai pembelajaran dari pengalaman sebelumnya, Fajar Saputra dari FORINA berbagi mengenai pembelajaran PVA orangutan. Berbagai materi tersebut kemudian menjadi dasar untuk masuk ke bagian utama workshop, yaitu diskusi mengenai parameter yang perlu dimasukkan dalam PHVA bilou.

Setiap parameter dibahas bersama. Data populasi, reproduksi, mortalitas, habitat, serta berbagai informasi dari penelitian terdahulu ditinjau kembali untuk melihat data apa yang tersedia dan bagaimana data tersebut dapat digunakan dalam pemodelan. Diskusi dilakukan untuk mendapatkan kesepahaman di antara para pihak sebelum parameter dimasukkan ke dalam model. Dari proses tersebut, VORTEX dipilih sebagai perangkat pemodelan PHVA Owa Bilou. Model kemudian mulai dijalankan berdasarkan parameter yang telah dibahas dan disepakati dalam forum. Namun, proses ini masih akan berlanjut. Hasil pemodelan awal akan kembali didiskusikan bersama panelis PHVA untuk mendapatkan masukan dan penyempurnaan.
Bagi SwaraOwa, PHVA bukan hanya tentang menjalankan sebuah model. Lebih dari itu, proses ini menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pengetahuan yang selama ini tersebar di antara peneliti, akademisi, pengelola kawasan, dan lembaga konservasi. Data lapangan dan pengalaman para pihak menjadi bagian penting untuk memahami kondisi bilou secara lebih utuh. Daftar peserta menunjukkan keterlibatan Universitas Andalas, Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, FORINA, SINTAS, Yayasan Hutan Harimau, GJI, PRCF Indonesia, Balai TN Siberut, BKSDA Sumatera Barat, dan SwaraOwa.

Hasil dari proses PHVA selanjutnya akan dibawa ke dalam rangkaian workshop SRAK  dan menjadi salah satu bahan dalam penyusunan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Owa Bilou Mentawai. Dari Padang, langkah untuk memahami dan menjaga bilou terus berlanjut. Karena menjaga bilou bukan hanya tentang mempertahankan satu jenis owa, tetapi juga memastikan hutan Mentawai tetap menjadi rumah bagi mereka, sekarang dan di masa yang akan datang.

 

10May/25

Mentawai Gibbon: Conservation and Monitoring Efforts in the Siberut Customary Forest

by : Arif Setiawan

training participants with siripok bilou t-shirt

Two activities in two different locations have been and are being started in Siberut, the first in the Toloulago forest area and the second in the traditional forest area in Rokdok village. The activities at the Toloulago location are a continuation of the activities from previous years with Malinggai Uma in southern Siberut. And the second activity is a new initiative to strengthen the management of customary forests-Hutan Adat- in Siberut.

From discarded wood to hope: gibbon spotting post

The Malinggai Uma team made a gibbon spotting post or wildlife observation post in the Toloulagok forest. This wildlife observation post aims to develop community based wildlife tourism which has been developed in Toloulago by Uma Malinggai. In addition, this observation post can also be used to control illegal logging activities that continue to occur in this area.

gibbon spotting post in Toloulago forest

Ismael saumanuk who with the team has made the size of this observation post 4×6 with two floors, development that has been going on for 2 months and until now is about 75% completed. The making of this post was also initiated from the rampant felling of trees in the Touloulago forest, and the big logs were not used, they were just left in the forest, meaning that the loggers only took a part that was good or what was necessary, while the logs were left in the forest. Ismael, Visen and Damianus initiated the use of these trees to be used as observation posts.

 

Siripok Bilou : Gibbon Monitoring Team

Starting this month, the siripok bilou ( mean friends of the gibbon in Mentawai language ) team will be strengthened again with the monitoring team, Aman Tara, from Mailepet as a locals who will lead the gibbon survey and monitoring activities in the traditional forest region. This activity is part of a consortium for the conservation of the Mentawai gibbon  between Yayasan Citra Mandiri Mentawai, Swaraowa and Green Justice Indonesia. This collaborative project aims to strengthen the current management of customary forests and has received recognition from the government. Swarawa in this regard will contribute to provide technical support for monitoring Bilou as one of the flagship species in this customary forest.

gibbon monitoring team in customary forest of siberut

The survey will be carried out for the next 6 months, in the customary forest area in the villages of Madobag and Matotonan. The preparation for this survey is the introduction of the gibbon monitoring technique based on their vocalization and from April 24 to May 1, 2025 we trained a special team from Rokdok village, this technique was used in the previous survey in Siberut (Setiawan et al 2020). The Malinggai uma team who have become familiar with this survey technique became mentors, Aman Andei and Aman Tebai came along to accompany and train the team that will be thrown later. The initial socialization about this activity was facilitated by the YCMM team on the night of April 25, 2025 and was attended by approximately 30 people from the village of Rokdok. Then some of those present that night were selected to join the monitoring team, then continued with the introduction of gibbon-based survey techniques, guided by Adin and Wawan from SwaraOwa.

training participants in the forest

Bilou- Mentawai Gibbon ( Hylobates klossii)

That night basic knowledge  about gibbons in Indonesia and the monitoring technique was presented by Wawan and Adin, and the next morning the team was divided into 3 for data collection practice. Adin introduced the apps we use to support i.e kobocollect and avenza map for data collection. The triangulation system was put into practice for 4 days in a row. The first experience for the team so there are many things that need to be discussed together, the unexpected field conditions also provide additional information for the next locations. One of the interesting things from these 4 days of observation, 2 teams did not hear Gibbon’s voice at all, only the 3rd team heard Gibbon’s voice, even that was only 1 group and the distance was very far. For the time being there is indeed a difficulty for the team that does not hear the voice and from the results of these 4 days it is also possible that the gibbon around this customary  forest area is also very sparsely populated. We will go deeper into this in the next surveys.

Capacity building and program development that is sustainable and economically beneficial is highly expected by Mentawai communities, what are the economic benefits of this? That is one of the things that is asked a lot and to answer it is not short. Ismael and Vinsen were very helpful in their presence at this event, meaning that without any language barrier from the swaraOwa team who explained Vinsen and  Ismael’s experience of developing Toloulago gibbon watching with swaraOwa since 2016 could be told to the participants in Rokdok. Visits by tourists who are interested in seeing and participating in the program offered is one of the economic benefits of gibbons, staying for a few days to eat, stay and need transportation are some of the impacts of economic activities that occur with the existence of Gibbon in the forest area in Toloulagok.

The customary  forest area is certainly very potential to be developed for its benefits, the existence of endemic species that cannot be found in other parts of the world will be an economic asset and socially and culturally can strengthen the global identity for Mentawai Island’s biodiversity.