Merancang Strategi Konservasi Bilou Mentawai

Oleh : Fatimah Zahratul Jannah

foto bersama peserta workshop PVA Bilou Mentawai

Pada 10 September 2026, Padang menjadi tempat bertemunya para peneliti, akademisi, pengelola kawasan, dan pegiat konservasi untuk membicarakan masa depan salah satu primata endemik Kepulauan Mentawai, owa bilou (Hylobates klossii). Melalui Workshop Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) Owa Bilou Mentawai, berbagai data dan pengetahuan tentang bilou mulai dipertemukan untuk melihat bagaimana populasi dan habitatnya dapat bertahan dalam jangka panjang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Owa Bilou Mentawai. Workshop didukung oleh Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik, Kementerian Kehutanan, dan dilaksanakan oleh SwaraOwa berkolaborasi dengan Balai Taman Nasional Siberut.

Bilou ( Hyloboates klossii)

Pembukaan workshop dihadiri oleh perwakilan Balai Taman Nasional Siberut dan BKSDA Sumatera Barat, Ketua SRAK Owa Bilou Erlinda C. Kartika, Ph.D., serta Direktur SwaraOwa Arif Setiawan. Forum juga mempertemukan akademisi, peneliti, lembaga swadaya masyarakat, pengelola kawasan, dan berbagai pihak yang selama ini memiliki data maupun pengalaman terkait bilou.

Materi pertama disampaikan oleh Dr. Suci Atmoko dari Universitas Nasional, mengenai pengantar PVA untuk Bilou Mentawai yang menekankan tujuan dilakukannya PVA ini adalah untuk : adalah sebagai fondasi ilmiah untuk memetakan peluang bertahan hidup populasi Bilou di habitat aslinya serta memprediksi risiko kepunahan.

Selanjutnya, Nur Aoliya dari SwaraOwa memaparkan Populasi Bilou (Hylobates klossii) di Kepulauan Mentawai berdasarkan survey yang telah dilakukan di tahun 2025 dan tahun 2026. Dari survey yang dilakukan oleh tim swaraowa, dengan menggunakan metode fixed point- vocal count, metode titik ini digunakan untuk mendengarkan suara kelompok bilou bersuara, di seluruh lokasi-lokasi yang sebelumnya telah di pelajari berdasarkan informasi tutupan hutan dan informasi dari warga lokal mengenai keberadaan bilou.

Sebelum pengambilan data, tim survey telah mendapatkan pelatihan terlebih dahulu, 2 kali pelatihan dalam waktu total 2 minggu dilaksanakan di awal tahun 2025 dan di bulan ..wilayah di Taman Nasional Siberut, siberut utara. Tujuannya adalah untuk pengenalan metode dan prinsip dasar metode survey Bilou berdasarkan suara. Pengambilan data, dilakukan dengan rincian 23 titik LPS di Siberut ( 9 titik di dalam kawasan TNS dan 14 titik diluar kawasan ), di sipora 2 titik lps, di Pagai Utara dan Pagai Selatan 3 titik LPS. setiap titik di lakukan pengamatan selama 4 hari berturut-turut.

Menurut hasil tersebut , saat ini pulasi Bilou adalah  11,903.13 individu di seluruh Kepulauan Mentawai. Pulau Siberut ada kuranglebih 7,808 individu ( di dalam kawasan Taman Nasional), di Siberut luar Taman Nasional ada setidaknya 2,922 individu, di Pulau sipora, terdapat 229 individu, dan Pagai utara, Pagai Selatan ada setidaknya 943 individu.di seluruh Kepulauan Mentawai. Aoliya menjelaskan bahwa telah terjadi penurunan populasi di Mentawai keseluruhan selama 21 tahun (2005-2026) adalah 42% atau 2.3% per tahun, dg jumlah penurunan tidak seragam di tiap pulau. Estimasi ini dari nilai tengah (midpoint) populasi dari area suitable. Penurunan populasi didapat apabila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, dengan tanpa mempertimbangkan lokasi LPS dan jumlah sampel lokasi, meskipun survey dilakukan oleh tim swaraOwa lebih banyak dibandingkan survey sebelumnya, di tahun 2025.

Selanjutnya, Kurnia Latifiana dari SwaraOwa yang menyampaikan Pemetaan Kesesuaian Habitat Bilou (Hylobates klossii) di Kepulauan Mentawai, Indonesia. Kurnia menekankan bahwa pemetaan kesesuaian habitat bilou adalah sangat penting karena sebagai peta dasar untuk konservasi species dalam skala landskap, memahami lokasi prioritas dan rencana konservasi. Kurnia menggunakan pendekatan pemodelan Maximum entropi dan Random forest berdasar lebih dari 300 titik perjumpaan bilou. Luasan habitat yang sesuai berada di siberut, hasil analisis mengenai luasan tutupan hutan dan habitat yang sesuai untuk Bilou, disajijan di bawah ini, dan analisis ini juga menjadi dasar untuk estimasi populasi yang dilakukan oleh tim swaraOwa.

 Luasan kesesuaian habitat bilou di Kep.Mentawai

Workshop ini juga menghadirkan, studi kasus dari Orangutan, dan sebagai pembelajaran dari pengalaman sebelumnya, Fajar Saputra dari FORINA berbagi mengenai pembelajaran PVA orangutan. Berbagai materi tersebut kemudian menjadi dasar untuk masuk ke bagian utama workshop, yaitu diskusi mengenai parameter yang perlu dimasukkan dalam PHVA bilou.

Setiap parameter dibahas bersama. Data populasi, reproduksi, mortalitas, habitat, serta berbagai informasi dari penelitian terdahulu ditinjau kembali untuk melihat data apa yang tersedia dan bagaimana data tersebut dapat digunakan dalam pemodelan. Diskusi dilakukan untuk mendapatkan kesepahaman di antara para pihak sebelum parameter dimasukkan ke dalam model. Dari proses tersebut, VORTEX dipilih sebagai perangkat pemodelan PHVA Owa Bilou. Model kemudian mulai dijalankan berdasarkan parameter yang telah dibahas dan disepakati dalam forum. Namun, proses ini masih akan berlanjut. Hasil pemodelan awal akan kembali didiskusikan bersama panelis PHVA untuk mendapatkan masukan dan penyempurnaan.
Bagi SwaraOwa, PHVA bukan hanya tentang menjalankan sebuah model. Lebih dari itu, proses ini menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pengetahuan yang selama ini tersebar di antara peneliti, akademisi, pengelola kawasan, dan lembaga konservasi. Data lapangan dan pengalaman para pihak menjadi bagian penting untuk memahami kondisi bilou secara lebih utuh. Daftar peserta menunjukkan keterlibatan Universitas Andalas, Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, FORINA, SINTAS, Yayasan Hutan Harimau, GJI, PRCF Indonesia, Balai TN Siberut, BKSDA Sumatera Barat, dan SwaraOwa.

Hasil dari proses PHVA selanjutnya akan dibawa ke dalam rangkaian workshop SRAK  dan menjadi salah satu bahan dalam penyusunan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Owa Bilou Mentawai. Dari Padang, langkah untuk memahami dan menjaga bilou terus berlanjut. Karena menjaga bilou bukan hanya tentang mempertahankan satu jenis owa, tetapi juga memastikan hutan Mentawai tetap menjadi rumah bagi mereka, sekarang dan di masa yang akan datang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *